Jumat, 13 Agustus 2021

Matematika di Era Pandemi : Tetap Optimis untuk Hasil yang Manis

Matematika di Era Pandemi : Tetap Optimis untuk Hasil yang Manis

Oleh : Faidatun Islamiyah

 

Pandemi Covid-19 yang melanda belahan dunia sekarang ini telah mengubah berbagai aspek kehidupan, salah satunya yaitu pendidikan. Pendidikan formal yang selama ini dilaksanakan secara tatap muka, mau tidak mau harus bergeser dan berubah menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai solusi untuk tetap dilaksanakannya pendidikan di Indonesia. Kondisi seperti ini tentu tidak mudah dilalui oleh masyarakat karena orang tua harus mendampingi dan atau mengajarkan materi kepada anak ketika di rumah. Kegiatan pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga sangat membutuhkan media yang dapat menunjang siswa agar dapat melaksanankan ataupun menerima pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebenarnya bukanlah masalah karena saat ini kita hidup di era digital, dimana segala informasi dapat kita akses secara cepat dengan waktu dan tempat yang fleksibel. Penerapan PJJ akan menjadi masalah apabila diterapkan pada daerah ataupun individu dengan sarana dan akses yang terbatas. Selain itu, penerapan PJJ juga dapat mengakibatkan peserta didik kesulitan memperoleh penjelasan secara detail, dikarenakan kurangnya interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang ada di sekolah tak lepas dari hambatan-hambatan akibat adanya pandemi covid-19. Matematika yang selama ini sudah dianggap sulit dan rumit oleh sebagian siswa, akan semakin menjadi momok ketika diajarkan secara jarak jauh dengan sistem dalam jaringan (daring). Siswa belum tentu memahami konsep apabila materi hanya dishare di grup atau siswa hanya disuruh untuk menonton video di Youtube atau media lainnya. Guru perlu menjelaskan materi yang akan dipelajari secara terperinci serta berpikir kreatif dan inovatif dalam mendesain metode pembelajaran dengan menggunakan fasilitas yang ada sehingga materi dapat tersampaikan dengan tepat dan optimal. Karena jika tidak, pembelajaran akan mengambang dan berlangsung tanpa adanya organisasi yang baik yang bermuara pada tidak efektifnya pembelajaran.

Penerapan model pembelajaran yang sesuai menjadi salah satu cara yang cukup efektif agar pembelajaran tidak membosankan dan tidak terkesan membebankan peserta didik. Untuk mengkonkretkan konsep yang abstrak dalam pembelajaran matematika, guru dapat menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik atau Realistic Mathematics Education (RME). Pembelajaran matematika realistik diawali dengan masalah-masalah yang real atau nyata, yang dapat dijangkau oleh siswa di dunia nyata sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna. Konteks real sebagai titik pembentukan konsep matematika yang abstrak melalui pemanfaatan secara optimal berbagai media yang tepat dan kemampuan matematika dari pengalaman sehari-hari. Dunia nyata bukan hanya sebagai sumber tetapi juga merupakan wadah pengaplikasian kembali matematika. Pendekatan ini memungkinkan matematika menjadi lebih dekat dengan siswa dan tidak dianggap rumit lagi.

Penggunaan berbagai media komunikasi untuk menyampaikan materi ke siswa juga harus diperhatikan guna terwujudnya pembelajaran yang interaktif sehingga tujuan dari pembelajaran itu dengan sendirinya akan tercapai. Penggunaan media yang bervariasi dapat menjadikan pembelajaran lebih berwarna dan tidak membosankan. Platform media yang digunakan pun bisa didapatkan secara gratis seperti Google Form, Zoho Form, Google Classroom, Google Meet, Zoom, WhatsApp, dll. Berbagai pelatihan online melalui Zoom meeting dan Google Meet telah banyak dilakukan oleh guru matematika dalam menerapkan media pembelajaran agar tidak monoton terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Pembelajaran daring tidak berarti hanya memberikan materi ataupun tugas melalui WhatsApp atau Google Classroom saja, guru dan siswa tetap bisa berinteraksi secara langsung melalui aplikasi Zoom ataupun Google Meet. Meskipun saat pelaksanaannya, aplikasi-aplikasi tersebut masih memiliki banyak kendala, seperti kondisi jaringan internet yang buruk bahkan akses listrik yang belum merata, namun hal ini sedikit banyaknya tetap memberikan warna bagi pembelajaran daring.

Terakhir, hal yang tidak kalah penting adalah penilaian dan pemberian reward kepada siswa. Penilaian meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian kognitif dapat diperoleh dari hasil kuis, ulangan harian dan PAS yang diberikan kepada siswa. Penilaian afektif, dapat dilihat dari kedisiplinan siswa dalam bentuk kehadiran maupun dalam pengumpulan tugas-tugas. Selain itu, partisispasi dan antusiasme siswa dalam mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir juga dapat termasuk dalam aspek penilaian afektif. Sedangkan untuk penilaian psikomotorik guru dapat melihat keaktifan siswa dalam mengutarakan pendapatnya, kreativitas saat mengerjakan tugas. Pemberian reward dapat berupa sebuah kata kepada setiap siswa yang sudah merespons diskusi pembelajaran dengan baik. Pemberian reward yang seperti ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran meskipun pembelajaran dilaksanakan dengan sistem daring.

Meski dinilai kurang optimal dan belum bisa dilaksanakan secara maksimal seperti pembelajaran di kelas, tetapi pembelajaran ini diharapkan mampu mendorong dan membangkitkan semangat siswa untuk tetap belajar. Untuk para guru, tetaplah bergerak dan tetap optimis bahwa segala kesulitan dan hambatan yang telah kita hadapi dalam pembelajaran secara daring, akan membuahkan hasil yang manis. Mari bersama-sama untuk terus semangat melakukan inovasi-inovasi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia dan melahirkan generasi masa depan yang lebih baik. Salam Pendidikan. Merdeka Belajar, Guru Penggerak.