Matematika di Era Pandemi : Tetap Optimis
untuk Hasil yang Manis
Oleh : Faidatun Islamiyah
Pandemi Covid-19 yang melanda
belahan dunia sekarang ini telah mengubah berbagai aspek kehidupan, salah
satunya yaitu pendidikan. Pendidikan formal yang selama ini dilaksanakan secara
tatap muka, mau tidak mau harus bergeser dan berubah menjadi Pembelajaran Jarak
Jauh (PJJ) sebagai solusi untuk tetap dilaksanakannya pendidikan di Indonesia. Kondisi
seperti ini tentu tidak mudah dilalui oleh masyarakat karena orang tua harus
mendampingi dan atau mengajarkan materi kepada anak ketika di rumah. Kegiatan
pembelajaran jarak jauh (PJJ) juga sangat membutuhkan media yang dapat
menunjang siswa agar dapat melaksanankan ataupun menerima pembelajaran yang
disampaikan oleh guru. Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebenarnya bukanlah
masalah karena saat ini kita hidup di era digital, dimana segala informasi
dapat kita akses secara cepat dengan waktu dan tempat yang fleksibel. Penerapan
PJJ akan menjadi masalah apabila diterapkan pada daerah ataupun individu dengan
sarana dan akses yang terbatas. Selain itu, penerapan PJJ juga dapat
mengakibatkan peserta didik kesulitan memperoleh penjelasan secara detail,
dikarenakan kurangnya interaksi antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.
Matematika sebagai salah satu mata
pelajaran yang ada di sekolah tak lepas dari hambatan-hambatan akibat adanya
pandemi covid-19. Matematika yang selama ini sudah dianggap sulit dan rumit oleh
sebagian siswa, akan semakin menjadi momok ketika diajarkan secara jarak jauh
dengan sistem dalam jaringan (daring). Siswa belum tentu memahami konsep
apabila materi hanya dishare di grup atau siswa hanya disuruh untuk
menonton video di Youtube atau media lainnya. Guru perlu menjelaskan
materi yang akan dipelajari secara terperinci serta berpikir kreatif dan
inovatif dalam mendesain metode pembelajaran dengan menggunakan fasilitas yang
ada sehingga materi dapat tersampaikan dengan tepat dan optimal. Karena jika
tidak, pembelajaran akan mengambang dan berlangsung tanpa adanya
organisasi yang baik yang bermuara pada tidak efektifnya pembelajaran.
Penerapan model pembelajaran yang
sesuai menjadi salah satu cara yang cukup efektif agar
pembelajaran tidak membosankan dan tidak terkesan membebankan peserta didik. Untuk
mengkonkretkan konsep yang abstrak dalam pembelajaran matematika, guru dapat
menggunakan model pembelajaran dengan pendekatan matematika realistik atau Realistic
Mathematics Education (RME). Pembelajaran matematika realistik diawali
dengan masalah-masalah yang real atau nyata, yang dapat dijangkau oleh
siswa di dunia nyata sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna.
Konteks real sebagai titik pembentukan konsep matematika yang abstrak
melalui pemanfaatan secara optimal berbagai media yang tepat dan kemampuan
matematika dari pengalaman sehari-hari. Dunia nyata bukan hanya sebagai sumber
tetapi juga merupakan wadah pengaplikasian kembali matematika. Pendekatan ini
memungkinkan matematika menjadi lebih dekat dengan siswa dan tidak dianggap
rumit lagi.
Penggunaan berbagai media komunikasi
untuk menyampaikan materi ke siswa juga harus diperhatikan guna terwujudnya pembelajaran
yang interaktif sehingga tujuan dari pembelajaran itu dengan sendirinya akan
tercapai. Penggunaan media yang bervariasi dapat menjadikan pembelajaran lebih
berwarna dan tidak membosankan. Platform media yang digunakan pun bisa
didapatkan secara gratis seperti Google Form, Zoho Form, Google
Classroom, Google Meet, Zoom, WhatsApp, dll. Berbagai
pelatihan online melalui Zoom meeting dan Google Meet telah
banyak dilakukan oleh guru matematika dalam menerapkan media pembelajaran agar
tidak monoton terutama di masa pandemi seperti sekarang ini. Pembelajaran daring
tidak berarti hanya memberikan materi ataupun tugas melalui WhatsApp
atau Google Classroom saja, guru dan siswa tetap bisa berinteraksi secara
langsung melalui aplikasi Zoom ataupun Google Meet. Meskipun saat
pelaksanaannya, aplikasi-aplikasi tersebut masih memiliki banyak kendala, seperti
kondisi jaringan internet yang buruk bahkan akses listrik yang belum merata, namun
hal ini sedikit banyaknya tetap memberikan warna bagi pembelajaran daring.
Terakhir, hal yang tidak kalah
penting adalah penilaian dan pemberian reward kepada siswa. Penilaian
meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian kognitif dapat
diperoleh dari hasil kuis, ulangan harian dan PAS yang diberikan kepada siswa. Penilaian
afektif, dapat dilihat dari kedisiplinan siswa dalam bentuk kehadiran maupun
dalam pengumpulan tugas-tugas. Selain itu, partisispasi dan antusiasme siswa
dalam mengikuti pembelajaran dari awal hingga akhir juga dapat termasuk dalam
aspek penilaian afektif. Sedangkan untuk penilaian psikomotorik guru dapat
melihat keaktifan siswa dalam mengutarakan pendapatnya, kreativitas saat
mengerjakan tugas. Pemberian reward dapat berupa sebuah kata kepada
setiap siswa yang sudah merespons diskusi pembelajaran dengan baik. Pemberian reward
yang seperti ini diharapkan mampu memotivasi siswa untuk mengikuti pembelajaran
meskipun pembelajaran dilaksanakan dengan sistem daring.
Meski dinilai kurang optimal dan
belum bisa dilaksanakan secara maksimal seperti pembelajaran di kelas, tetapi pembelajaran
ini diharapkan mampu mendorong dan membangkitkan semangat siswa untuk tetap
belajar. Untuk para guru, tetaplah bergerak dan tetap optimis bahwa segala kesulitan
dan hambatan yang telah kita hadapi dalam pembelajaran secara daring, akan
membuahkan hasil yang manis. Mari bersama-sama untuk terus semangat melakukan
inovasi-inovasi untuk kemajuan pendidikan di Indonesia dan melahirkan generasi
masa depan yang lebih baik. Salam Pendidikan. Merdeka Belajar, Guru Penggerak.
































